Mengintip Kecanggihan Pesawat Nurtanio N219, Perintis Penerbangan Asli Kandangan Kalsel

Bangga rasanya nama orang penting di Banua, Nurtanio dijadikan nama pesawat N219. Nurtanio atau Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo dikenal juga dengan nama L.M.U Nurtanio adalah perintis penerbangan Indonesia lahir di Kandangan Hulu Sungai Selatan, Kalsel 3 Desember 1923. Namanya resmi jadi nama pesawat canggih buatan LAPAN. Berikut kecanggian pesawat ini.
Foto via viva

BERI.WEB.ID
- Bangga rasanya nama orang penting di Banua, Nurtanio dijadikan nama pesawat N219. Nurtanio atau Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo dikenal juga dengan nama L.M.U Nurtanio adalah perintis penerbangan Indonesia lahir di Kandangan Hulu Sungai Selatan, Kalsel 3 Desember 1923. Namanya resmi jadi nama pesawat canggih buatan LAPAN. Berikut kecanggian pesawat ini.

Setelah 11 tahun melalui serangkaian proses pengembangan, pesawat Nurtanio akhirnya melakukan uji terbang pada Jumat (10/11/2017). Pesawat ini mampu menampung 19 penumpang. Memiliki kecepatan maksimal 213 knot dan minimum 29 knot.

Pesawat ini juga dibekali teknologi avionik modern seperti Garmin G-1000 dengan flight management system dan GPS. Dilengkapi dua buah mesin turbodrop dan sepasang mesin Pratt dan Whitney PT6A-52 berkecepatan 850 shp dan daya jelajah 1.580 NM.

Memiliki kabin terluas dikelas pesawat serbaguna. Bisa mengangkut barang, penumpang, kargo bahkan evakuasi medis, dan pasukan. Memiliki kemampuan short take-off landing dan self-starting tanpa bantuan ground.

Dilengkapi sistem autopilot, terrain awareness dan warning system. Yaitu alat pendeteksi jika pesawat sedang menuju atau mendekati area perbukitan.

Hanya memerlukan landasan pacu 500 meter. Dilengkapi teknologi multihop capability fuel tank. Yaitu teknologi yang memungkinkan pesawat tidak mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin seperti dikutip dari CNN Indonesia, menyebutkan N219 Nurtanio dirancang khusus untuk menjelajahi pulau-pulau di Indonesia. Keunggulannya, ia tidak memerlukan landasan yang terlalu panjang untuk terbang maupun mendarat.

Nurtanio membawa dua mesin yang membuatnya memiliki bobot 7.030 kg dan mampu menempuh kecepatan pesawat purwarupa hingga 80 km/jam. Dia mampu menjelajah 600-700 km, sehingga cocok untuk menghubungkan antarkota di wilayah terpencil seperti Papua.

Menariknya, pesawat yang dibandrol seharga USD 6-7 Juta atau setara Rp78 miliar - Rp91 miliar ini sudah banyak dipesan ratusan unit. Padahal target produksi pesawat Nurtanio lima tahun pertamanya hanya 12 unit pesawat per tahun. Baru pada tahun berikutnya akan diproduksi sebanyak 24 unit pesawat per tahun. [red]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel