Pengembang Properti Wajib Waspadai ini Ditahun Politik

Tahun politik tak hanya akan mempengaruhi konstelasi politik. Pengembang properti pun wajib mewaspadai perubahan ini agar bisnis properti yang dijalankan benar-benar kondusif.


Tahun politik tak hanya akan mempengaruhi konstelasi politik. Pengembang properti pun wajib mewaspadai perubahan ini agar bisnis properti yang dijalankan benar-benar kondusif.


Kendati diperkirakan pemilihan kepala daerah serentak berjalan kondusif, namun pengembang properti sepertinya bakal terkena dampaknya jika terjadi guncangan.

Cpuntry General Manager Rumah 123, Ignatius Untung dalam Properti Outlook 2018 di Jakarta (17/1/2018) mengatakan ada beberapa hal yang harus diwaspadai pengembang properti di tahun politik ini. Salah satunya kata dia, siklus properti delapan tahunan.

Kondisi penjualan properti saat ini memang tengah merangkak naik dari kondisi sebelumnya yang relatif datar. Kondisi ini sepenuhnya merupakan mekanisme pasar. Ia mengkhawatirkan ketika penjualan begitu cepat naik, tiba-tiba berkurang lagi.

Disisi lain kata dia, kemampuan daya beli masyarakat diperkirkan tidak akan sebaik tahun sebelumnya. Disamping perubahan gaya hidup masyarakat yang serba digital.

Hal lainnya yang harus diwaspadai adalah perubahan kecenderungan generasi milenial dalam membelanjakan uang. Properti bagi mereka diprediksi bukan menjadi hal prioritas. Generasi milenial cenderung menggunakan uang yang telah ditabung untuk kegiatan hiburan. Populasi generasi milenial yang potensial memberi properti mencapai 40 persen dan akan naik 70 persen pada 2030.

Dan yang terakhir yang harus diwaspadai adanya serbuan developer China. Mereka bahkan ada yang bersembunyi di balik nama lokal.

Tahun Politik, Yakin Bisnis Properti Tetap Tumbuh


Dinamika politik diyakini akan memberikan dampak bagi sektor properti. Kendati begitu, Direktur Neraca Pengeluaran Badan Pusat Statistik, Puji Agus Kurniawan dalam diskusi Property Outlook 2018 di Jakarta (17/1/2018) memperkirakan, masih ada faktor yang membuat properti memiliki harapan tumbuh pada 2018.

Faktor tersebut kata dia diantaranya kebijakan pemerintah yang masih pro pada sektor infrastruktur dan perumahan. Pemerintah kata dia, mengeluarkan kebijakan perumahan sebagai prioritas lewat program sejuta rumah. 

Faktor lainnya adalah suku bunga acuan Bank Indonesia masih berada di kisaran 4,25 persen.  Dengan acuan itu kata dia, harapannya kemampuan daya beli masyarakat dalam membeli rumah akan semakin tinggi.
Laju inflasi pada tahun 2017 kata Puji, juga relatif terjaga. Faktor lain yang tak kalah penting yakni demografi jumlah penduduk yang mencapai 260 juta jiwa tahun ini. Dari jumlah itu, 15,86 persen merupakan penduduk di rentang usia 25-34 tahun yang memiliki minat rumah cukup tinggi.
 [red]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel