Mengenal Teknologi Blockchain dan Manfaatnya dari A Sampai Z

Teknologi blockchain kini sedang populer diperbincangkan. Blockchain diklaim sebagai teknologi yang dinilai mampu mengubah konsep teknologi transaksi dan pertukaran informasi. Sifatnya yang terdesentralisasi membuat teknologi ini diklaim sangat aman, efisien dan mudah digunakan. Benarkah demikian ?


Teknologi blockchain kini sedang populer diperbincangkan. Blockchain diklaim sebagai teknologi yang dinilai mampu mengubah konsep teknologi transaksi dan pertukaran informasi. Sifatnya yang terdesentralisasi membuat teknologi ini diklaim sangat aman, efisien dan mudah digunakan. Benarkah demikian ?


Co-Founder at Blockchain Zoo Solution, Danny Gauthier menjelaskan Cryptocurrency seperti Bitcoin muncul dari sistem Blockchain. Blockchain bisa disebut solusi ideal dalam membangun interaksi berbentuk teknologi. Blockchain memiliki wujud jaringan informasi yang tidak memiliki single version of truth.

Blockchain menurutnya berperan sebagai pendukung ekosistem digital yang memiliki fitur dan aplikasi lebih baik dari sekedar Bitcoin. Blockchain tumbuh sebagai teknologi yang niscaya berkembang.

Blockchain prinsipnya adalah kemajuan yang berbasis kolaborasi dan simbiosis mutualisme yang memberikan tambahan insentif bagi pembangunan ekosistem digital, seperti smart city.

Didhien menambahkan, Blockchain memiliki tingkat keamanan yang sangat jauh berbeda dari pencapaian atas keamanan jaringan yang pernah ada sebelumnya. Tidak seperti IP, DNS, dsb, Blockchain sangat aman sebab menggunakan sistem desentral dimana semua orang memegang ledger yang sama. Misalnya untuk melakukan fraud, 51 persen pengguna Bitcoin harus bersetuju untuk hal tersebut.


Manfaat Teknologi Blochcain


Sederhananya, melalui blockchain tak perlu memakan waktu saat melakukan transaksi. Sebab, umumnya transaksi yang dilakukan oleh dua belah pihak memerlukan perantara dari pihak ketiga yang bertindak sebagai trusted party, seperti bank. Dengan teknologi Blockchain, transaksi dapat langsung dilakukan antar kedua belah pihak. Itulah contoh aplikasi blockchain di sektor keuangan.

Selain keuangan, blockchain juga sudah diterapkan di industri kesehatan di Amerika Serikat. Mereka menggunakan blockchain untuk menyimpan catatan medis, memonitor pemberian resep obat, mendesain rencana pengobatan yang lebih rinci, serta menciptakan pasar penelitian medis terbuka untuk membantu penyembuhan penyakit kronis.

Melalui Blockhain, pasien, dokter, dan pihak berwenang lainnya dapat mengakses data pasien lebih cepat dan aman.

Asal-usul Teknologi Blockchain

Teknologi blockchain pertama kali ditemukan pada 2008. Kala itu, terjadi krisis besar yang mengakibatkan kegoncangan industri perbankan. Kala itu, transaksi keuangan tak bisa dilakukan.Kemudian, tercetuslah teknologi yang memungkinkan tak ada lagi perantara dalam bertransaksi.

Riset Accenture mencatat bahwa 8 dari 10 bank investasi terbesar di dunia mampu menekan biaya infrastrukturnya hingga 30 persen berkat teknologi blockchain. Atau setara USD 8 miliar sampai USD 12 miliar dari biaya tahunan bank.

Sementara itu Transparency Market Research menyebut, nilai pasar dari blockchain diprediksi meningkat menjadi USD20 milyar pada 2024 dari USD316 juta di 2015 dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan sebesar 58,7 persen.

Pebankan Paling Siap Adopsi Blockchain

Teknologi blockchain tidak hanya untuk produk cryptocurencies. Misalnya Bitcoin, Etherum, Litecoin, dan lainnya. Teknologi ini juga bisa diaplikasikan untuk berbagai sektor-sektor industri berikut ini.

Sektor pertama yang sangat siap menerapkan teknologi blockchain adalah perbankan. Gagasan ini muncul saat IBM Asia Pasific berganti post dan harus mengganti seluruh dokumennya pada 130 bank di seluruh Asia Pasifik. Apabila dilakukan secara manual, akan memakan waktu, mengingat jumlah dokumen yang banyak dan harus dilegalisasi dan sebagainya. Bayangkan saja 1 nasabah minimal memerlukan waktu 20 hari untuk proses itu. Akhirnya, IBM melakukan PoC KYC di Singapura agar memungkinkan teknologi blockchain digunakan.

Sejumlah perbankan di Indonesia pun mulai mengkaji teknologi blockchain. Misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) kini sedang mengkaji kemungkinan penggunaan teknologi blockchain. Blockchain disebut juga teknologi yang ada di belakang mata uang digital.

Rencana BRI mengkaji penggunaan teknologi blockchain ini seiring langkah yang akan dilakukan regulator Bank Indonesia (BI). BI pun tengah melakukan kajian untuk menerbitkan digital currency atau uang digital. Salah satu teknologi yang dipertimbangkan bank sentral ini untuk memfasilitasi uang digital itu adalah blockchain.

Secara definisi, blockchain adalah besaran digital terdesentralisasi, meliputi transaksi-transaksi, dan bekerja dengan data yang diatur melalui serangkaian catatan yang disebut blok.  [red]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel