Susu Soya, Amankah Dikonsumsi Bayi dan Anak ? Inilah Faktanya

Susu Soya sudah cukup familiar di tengah masyarakat Indonesia. Sebagian besar orang dewasa dan anak-anak mungkin pernah mencobanya. Namun, amankah susu soya dikonsumsi bayi ? inilah fakta-fakta yang wajib and ketahui.
image via generasimaju.co.id
Susu Soya (https://www.generasimaju.co.id/alergianak/artikel/kenali/formula-soya-sebagai-alternatif-bagi-anak-dengan-alergi-protein-susu) sudah cukup familiar di tengah masyarakat Indonesia. Sebagian besar orang dewasa dan anak-anak mungkin pernah mencobanya. Namun, amankah susu soya dikonsumsi bayi ? inilah fakta-fakta yang wajib and ketahui.

BERI.WEB.ID - Soya atau kacang kedelai tak hanya bisa dijadikan makanan tradisional seperti tempe dan tahu saja. Bahan dasar  kacang Soya atau soyabean ini juga bisa diolah menjadi produk susu melalui serangkaian proses pembuatan susu soya.

Kandungan nutrisi yang cukup tinggi pada susu soya seringkali dijadikan sebagai susu alternatif bagi kaum ibu untuk bayi mereka yang alergi terhadap laktosa atau susu formula.


Kandungan Gizi Susu Soya


Dalam secangkir susu soya sekitar 240 ml tanpa pemanis, sedikitnya mengandung 7 gram protein dan 4 gram lemak. Tak hanya itu, dalam takaran yang sama, susu soya juga mebgandung 4 gram karbohidrat, dan 80-100 kalori.

Karena terbuat dari tanaman, Susu Soya memiliki nol persen kandungan kolesterol. Susu soya juga mengandung 0,241 gram lemak jenuh dalam setiap 100 ml takarnya. Susu soya juga merupakan sumber protein, kalium, vitamin A serta isoflavon.


Fakta-fakta Susu Soya


Kendati memiliki kandungan nutrisi, tak semua orang bisa meminum Susu Soya. Apalagi jika masih bayi atau usia Balita.

Banyak para pakar kesehatan menyatakan untuk tidak memberikan Susu Soya pada bayi. Khususnya kepada bayi yang terlahir dengan prematur atau bayi usia di bawah enam bulan. Dalam anjurannya, bayi pada usia 1-6 bulan seharusnya diberikan air susu ibu atau ASI. Sebab dalam ASI teradapat semua nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang dan kesehatannya.

Alasan lainnya mengapa pakar kesehatan tidak menyarankan memberi susu soya kepada bayi di bawah usia enam bulan itu, karena dikhawatirkan akan meningkatkan resiko reaksi alergi kedelai dalam tubuh bayi.

Belum lagi kandungan glukosa yang biasanya ditambahkan dalam susu soya, berpotensi merusak gigi bayi atau anak kecil. Glukosa dalam susu soya ini sama jenisnya dengan gula laktosa pada susu formula.

Kekhawatiran lainnya akibat memberikan susu soya ini juga bisa memperngaruhi perkembangan organ reproduksi bayi dan anak.  Seperti pubertas dini dan tiroid.  Sebab kacang kedelai sejatinya mengandung senyawa alami fitoestrogen. Mengkonsumsi makanan yang mengandung senyawa fitoestrogen dalam jumlah banyak, diduga bisa membuat berat badan bayi cenderung rendah.


Amankah Susu Soya Dikonsumsi Bayi ?


Kendati kekhawatiran para pakar kesehatan sangat beralasan, namun Susu Soya masih boleh dikonsumsi bayi sebagai alternatif jika alergi terhadap laktosa atau susu formula. Dengan catatan, keputusan memberikan susu soya pada bayi dan anak ini sudah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak.

Jika memang ingin memberikan susu soya untuk bayi, perhatikan kandungannya.  Susu soya yang akan diberikan juga harus yang terbuat dari kedelai utuh. Bukan Soya yang memiliki kandungan lemaknya yang rendah atau tanpa lemak. Sebab, untuk anak di bawah dua tahun, lemak sangat penting untuk perkembangan otak anak.

Pastikan juga susu soya yang ingin anda berikan diperkaya vitamin A, vitamin D, dan kalsium. Pastikan bayi dan anak yang meminum susu soya juga menambah asupan kalsium. Sebab, Soya mengandung zat phytate yang bekerja mengurangi kemampuan tubuh menyerap kalsium dan mineral.

Pastikan pula asupan vitamin B12 bayi dan anak anda terpenuhi. Perlu diingat, Vitamin B12 ini hanya ada pada makanan yang bersumber dari hewani.

Perlu disadari bahwa sekitar 10-14 persen anak yang alergi susu sapi juga alergi kedelai. Jadi sebelum memberikan susu soya untuk bayi atau anak, pastikan Anda berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter anak.  Semoga bermanfaat.  [red/*]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel