Hasil Survei BI, Harga Properti Q3 2017 Naik 0,5 Persen

Foto via rumah.com.


BERI.WEB.ID
- Sempat turun 0,05 persen di kuartal kedua, harga properti di kuartal tiga disebut-sebut naik 0,5 persen. Hasil survei Bank Indonesia menyebut, survei harga properti residensial (SHPR) Bank Indonesia pada triwulan ketiga mengindikasikan harga properti di pasar primer tumbuh, kendati melambat jika dibanding triwulan sebelumnya.

Hasil survei tersebut juga menyebut kenaikan harga properti terjadi pada semua tipe rumah dengan kenaikan terbesar pada rumah tipe menengah. Kenaikan harga terbesar terjadi di Lampung.

Dikutip dari laman bisnis.liputan6.com, Selasa (14/11/2017) secara tahunan, indeks harga properti juga tumbuh sebesar 3,32 persen (yoy), lebih tinggi dibanding 3,17 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Sementara itu, volume penjualan properti residensial juga mengalami peningkatan sebesar 2,58 persen (qtq), walaupun masih melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,61 persen (qtq).

Hal tersebut sejalan dengan masih terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian, di samping faktor suku bunga KPR yang masih relatif tinggi.

Sebagian besar pengembang (56,75 persen) menyatakan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial.

Sementara sebanyak 76,42 persen konsumen menyatakan bahwa fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial.

Sementara itu, dikutip kompas.com, Country General Manager Rumah123.com Ignatius Untung mengatakan dalam beberapa waktu terakhir bisnis properti dipandang cenderung lesu. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Masih tumbuh, tapi pelan.

Untung juga mengungkapkan ada banyak pandangan bahwa harga properti saat ini sudah terlampau mahal hingga tidak lagi terbeli. Banyak pula pengembang yang mengaku menjual properti saat ini tidak mudah.

Menurut Untung, harga properti tidak mengalami kenaikan yang berarti. Akan tetapi, spesifikasinya sedikit diturunkan dengan tujuan agar lebih terjangkau oleh masyarakat.

Frekuensi penjualan properti pun dipandang masih tumbuh. Akan tetapi, dari sisi nilai, yang perputaran bisnisnya bergerak sangat cepat adalah jenis rumah untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Berdasarkan data uang beredar oleh Bank Indonesia (BI), segmen kredit pemilikan rumah dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh 10,6 persen atau menjadi Rp 393,8 triliun per September 2017. Angka ini naik sedikit dibandingkan pertumbuhan 10,4 persen di Agustus 2017.[red]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel