Meneropong Masa Depan Bisnis Properti 10 Tahun Kedepan



BERI.WEB.ID
- Indonesia Property Forum (IPF) 2017 yang digelar di hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (30/11/2017) mengisyaratkan masa depan bisnis properti Indonesia. Forum para pemimpin sektor properti itu juga memberi sinyal, masa depan bisnis properti 10 tahun mendatang masih bergairah jika pertumbuhan ekonomi Indonesia kian membaik.

Saat ini, kendati pertumbuhan ekonomi rata-rata masih rendah, namun menurut Co-founder Indonesia Economic Forum, Sachin Gopalan proyek properti masih berjalan. Disisi lain, dukungan pemerintah lewat investasi infrastruktur akan memberi dampak positif bagi masa depan properti.

Kendati peluang industri properti 10 tahun mendatang akan berkembang, namun pelaku bisnis disektor ini juga harus benar-benar menganalisa bisnis propertinya. Sebab, menurut Sachin belakangan muncul persoalan serius akibat salah menafsirkan perubahan, tren dan peluang yang rumit saat ini yang memberi pengaruh besar pada proses pengambilan keputusan bisnis.

Lebih jauh diungkapkan Founder Indonesia Economic Forum, Shoeb Kagda. Menurutnya, urbanisasi yang cepat dan bangkitnya industri baru secara berpotensi membentuk industri properti beberapa dekade kedepan. Kondisi ini didorong perkembangan teknologi yang akan memposisikan Indonesia sebagai pusat inovasi di sektor properti.

Sementara itum, Chairman Lippo Group Mochtar Riady seperti dikutip dari okezone.com mengatakan, perekonomian Indonesia yang terus berkembang akan berpengaruh terhadap sektor properti. Karena menurutnya, antara properti dan ekonomi sangat erat kaitannya dan saling bersinggungan.

Menurutnya dengan tumbuhnya ekonomi Indonesia, maka pendapatan akan semakin besar. Dampaknya akan membuat minat masyarakat untuk membeli properti semakin besar.


Bergairahnya Pasar Properti Menengah


Kendati pasar properti masih lesu, namun tak dapat dipungkiri penjualan properti menengah cukup bergairah. Paling tidak itu terlihat ketika awal semester II 2017 direntang Rp1miliar hingga Rp9 miliar.

Salah satu pengembang yang sukses adalah PT Intiland Development Tbk. Ia sukses memasarkan proyek dengan konsep barunya fifty seven promande di akhir Agustus 2017.

Intiland sukses memasarkan dua tower apartemen di Kebon Kacang dengan 496 unit di Fifty Seven Promande yang kini sudah hampir habis terjual. Mereka membandrol dengan harga Rp 50 juta-Rp 55 juta per meter persegi (m2) atau Rp 2,8 miliar -Rp 9 miliar per unit.

Tak hanya itu, PT Grahabuana Cikarang juga tergolong sukses memasarkan proyek apartemen Kawana Golf Residence di Jababeka sebanyak 234 unit. Apartemen sewa untuk pasar expatriat Jepang ini dijual ke investor dengan harga Rp 28 juta per m2 atau sekitar Rp 1,03 miliar- Rp 2,1 miliar.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sukses memasarkan proyek residensial dan komersial di Serpong dan Bandung bertajuk Symphonia. Ini merupakan proyek perumahan yang akan dikembangkan secara kluster di lahan seluas 200 hektare (ha).

Saat diluncurkan pada 28 Oktober 2017, perumahan kluster yang dibangun di atas lahan 200 hektar ini berhasil terjual 363 unit dengan harga Rp1,06 miliar hingga Rp2,04 miliar.

Di Kalimantan Selatan, perusahaan besar perbankan Mayapada Group melebarkan bisnisnya diproperti dengan menghadirkan Sky Pavilion. Sebuah konsep apartemen eksklusif mix used di atas mall pertama di Kalsel. Sky Pavilion merupakan paduan antara hunian, office dan mall.

Apartemen mewah dan eksklusif ini ditawarkan dalam 6 tipe, mulai dari tipe studio, 1 bedroom, 2 bedrooms, 3 bedrooms, 4 bedrooms dan tipe penthouse . Berlokasi di tempat strategis Jl. A Yani Km11,8 Banjar, apartemen ini bakal jadi kawasan modern one stop living sesuai taglinenya Live, Work and Play. [red]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel