Teknologi Smartphone Terkini, Mengisi Baterai Kedepan Hanya 7 Detik

 Mengisi baterai smartphone memakan waktu lama? kedepan itu tidak akan terjadi lagi. Pasalnya peneliti sudah menemukan teknologi mengisi baterai smarpthone hanya 7 detik saja.



Mengisi baterai smartphone memakan waktu lama? kedepan itu tidak akan terjadi lagi. Pasalnya peneliti sudah menemukan teknologi mengisi baterai smarpthone hanya 7 detik saja.

Peneliti menemukan cara baru mengisi daya smartphone di masa depan. Pengisian daya super-cepat ini menyusul ditemukannya Graphene. Material ajaib ini disebut-sebut memiliki potensi besar dalam mengembangkan kinerja baterai smartphone.
Peningkatan kinerja baterai itu termasuk kemampuan menyimpan energi, aspek ketahanan dan kecepatan dalam proses pengisian baterai.

Penelitian ini sudah dilakukan berkali-kali, dan kesimpulannya peneliti memperoleh data bahwa Graphene mampu megisi daya hanya dalam waktu 7 detik saja. Berkali-kali lipat lebih cepat dibanding teknologi yang ada saat ini.

Salah seorang peneliti Graphene Flagship Eropa, Kari Hjelt mengatakan mereka tengah mengembangkan teknologi ini dan akan selesai dalam waktu dua tahun kedepan.

Dzat Graphene kata dia, merupakan material baru. Karenanya para peneliti pun sangat terkesan dengan penemuan selama kurun waktu 14 tahun itu.

Selain Graphene Flagship, beberapa tim peneliti Samsung Advanced Institute of Technology (SAIT) juga telah mengembangkan baterai dengan material yang sama. Namun, SAIT mengatakan baru bisa mendapatkan kecepatan pengisian daya dalam waktu 12 menit.

Dikutip dari laman wikipedia, graphene merupakan dzat lapisan tipis yang terbuat dari atom karbon murni dari ekstrak grafit. Dzat ini pertama kali berhasil ditemukan peneliti pada 2004 lalu.

Selain dapat menghantarkan energi dengan cepat, graphene juga memiliki kekuatan 200 kali lipat daripada baja. Namun begitu, graphene lebih istiemwa karena memiliki berat yang lebih ringan jika dibandingkan kertas.

Para ilmuwan berteori tentang graphene selama bertahun-tahun. Kabarnya dzat ini telah diproduksi secara tidak sengaja dalam jumlah kecil selama berabad-abad, melalui penggunaan pensil dan aplikasi grafit serupa lainnya.

Awalnya paa 1962, dzat ini diamati pada mikroskop elektron. Namun kala itu hanya mempelajari pengaruhnya pada permukaan logam. Material itu kemudian ditemukan lagi, diisolasi oleh Andre Geim dan Konstantin Novoselov di University of Manchester pada 2004.

Mereka berhasil mendeskripsikan komposisi, struktur dan sifat Graphene. Karena karyanya itu, mereka diganjar penghargaan Nobel dalam bidang fisika pada 2010 bertajuk for groundbreaking experiments regarding the two-dimensional material graphene." [red]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel